Wednesday, 11 May 2022

Jangan Jauh-Jauh dari Allah




Oleh : Didi Junaedi 


Semakin jauh kita dari Allah, semakin jauh kita dari kesuksesan dan keselamatan hidup, baik di dunia ini, lebih-lebih di akhirat kelak.  Maka Mendekatlah kepada Allah. 

Sebuah Pesan Sederhana Sarat Makna

“Nak, jika kamu ingin hidup bahagia, sukses di dunia dan akhirat, jangan jauh-jauh dari Allah”, demikian pesan kedua orang tua saya ketika saya masih berusia belasan tahun. Ketika itu saya belum begitu memahami maksud ucapan mereka. Sebagai seorang anak yang masih belum beranjak dewasa, saya hanya mengangguk mengiyakan tanpa ada pertanyaan lanjutan atas pernyataan kedua orang tua saya tersebut.

Belakangan, setelah saya dewasa, setelah pengetahuan tentang agama saya bertambah, setelah cara berpikir saya berkembang, setelah menjalani kehidupan yang penuh ujian ini saya baru memahami maksud pesan kedua orang tua saya tersebut. Inti pesan yang hendak mereka sampaikan adalah bahwa di mana pun, kapan pun, serta apa pun yang saya lakukan harus sejalan dengan aturan agama (Islam) yang sudah digariskan oleh Allah Swt dan Rasul-Nya. Seolah mereka hendak berkata, “jangan pernah melenceng dari aturan Allah, jangan menjaga jarak dengan-Nya, jangan jauh-jauh dari-Nya”.  Sebuah pesan sederhana yang sarat makna jika kita kaji lebih jauh. 

Pada hakekatnya, hubungan antara manusia (makhluk) dengan Allah (Khaliq) adalah hubungan yang melintasi batas ruang dan waktu, hubungan tanpa sekat, tanpa pemisah, begitu dekat, bahkan sangat dekat. Tidak ada sedikit pun ruang kehidupan manusia yang lepas dari keterikatan hubungan ini. Setiap gerak, langkah, bahkan hembusan nafas manusia senantiasa disertai kehadiran-Nya. Hal ini, yang sering tidak disadari oleh manusia. 

Kehadiran Allah, Sang Maha Kuasa, yang begitu dekat dengan kita, seringkali tidak kita manfaatkan sebagai tempat kita memohon, tempat kita bergantung, tempat kita mengadukan segala persoalan hidup. 

Disadari atau tidak, kita justru sering menjauh dari-Nya. Kita lebih sering meminta bantuan selain Allah ketika pelbagai persoalan meliputi kehidupan kita. Bahkan,  banyak di antara kita yang justru meminta kepada selain Allah dengan cara-cara yang dilarang Allah. 

Secara tidak sadar, kita sedang  menjauh dari-Nya, kita menjaga jarak dengan-Nya. Inilah pangkal segala kesusahan dan kesengsaraan hidup. Semakin jauh kita dari Allah, semakin jauh kita dari kesuksesan dan keselamatan hidup, baik di dunia ini, lebih-lebih di akhirat kelak.  Maka Mendekatlah kepada Allah. 

Barang siapa yang mendekat kepada-Ku satu jengkal maka Aku akan mendekat kepadanya satu hasta. Barang siapa yang mendekat kepada-Ku satu hasta, Aku akan mendekat kepadanya satu depa. Barang siapa yang mendekat kepada-Ku dengan berjalan, Aku akan menyongsongnya dengan berlari kecil.” (HR Bukhari )

* Ruang Inspirasi, Kamis, 12 Mei 2022

Ancaman terbesar itu bernama “TAKUT”



oleh

Imam Shamsi Ali

Tulisan ini masih lanjutan oleh-oleh dari pertemuan tahunan interfaith di University of North Florida. Sebuah perhelatan antar Komunitas agama yang cukup berprestise. Karena selain dihadiri oleh banyak tokoh agama; Yahudi, Kristen, Islam, Sikh, Hindu bahkan Baha’i. Juga dihadiri oleh banyak akademisi dari Universitas North Florida dan pejabat pemerintahan setempat. 

Pelaksana utama (main organizer) acara ini adalah the Interfaith Center of North Florida, sebuah non profit yang aktif dalam mengedukasi masyarakat Amerika tentang hubungan antar agama. Menariknya tanpa saya ketahui beberapa anggota Board dari organisasi itu adalah teman yang telah lama tidak ketemu lagi. 

Salah satu di antaranya adalah professor Lucinda Mosher, yang saat ini menjadi guru besar di International University Connecticut (formerly known as Hartford Seminary). Beliau adalah salah seorang yang saya kenal di kota New York sejak tahun 2002 lalu. Bahkan ketika beliau sebagai professor di Fordham University beliau meminta saya sebagai dosen tamu (visiting professor) di kelas beliau saat itu beberapa semester. 

Selain Lucinda juga ada Professor Perfez Ahmed yang dikenal luas di kalangan akademisi keuangan Amerika. Beliau adalah professor of finance (keuangan) di Universitas North Florida. Tapi juga mantan penasehat (senior advisor) di pemerintahan Barack Obama. Beliau bertindak sebagai moderator di acara ini. 

Saya menyampaikan beberapa hal yang berkaitan dengan “common humanity” dan bagaimana pijakan bersama (common ground) itu dapat menjadi motivasi bersama untuk membangun dunia yang lebih baik. Dunia yang aman, makmur dan tentunya tentram dan berkeadilan. 

Satu di antaranya yang saya tekankan pada acara ini adalah betapa ketakutan (fear) itu menjadi sumber ketakutan yang paling dominan dalam hidup manusia. Manusia kerap ketakutan (fearful) tentang banyak hal. Sehingga dengan sendirinya ketakutan itu menjadi sesuatu yang menakutkan. 

Ada banyak penyebab Kenapa banyak orang yang ketakutan. Ketakutan bisa terjadi karena terjadi “social shifting” (perubahan sosial) yang menjadikan sebagian merasa terancam. Perubahan itu bisa dalam nilai sosial. Misalnya dominasi kultur mengalami perubahan. Dari European cultural dominance menjadi Asian atau African misalnya. Pastinya mereka yang telah berada pada zona nyaman budaya Eropa akan mengalami perasaan terancam. 

Social shifting ini juga mencakup perubahan demografi masyarakat. Dari dominasi etnis tertentu misalnya menjadi dominasi etnis lain. Dalam kasus Barat meningginya rasisme dan white supremacy disebabkan salah satunya karena dominasi Eropa mulai tergeserkan. Hal ini tentunya merambat kepada perubahan budaya, termasuk agama. 

Hal lain yang menjadikan seseorang atau sekelompok orang mengalami ketakutan adalah karena faktor masa lalu. Saya menyebut ini dengan “phobia history” (historical phobia). Umat Islam termasuk yang terjangkiti penyakit ini. Sehingga kemajuan orang lain dalam kehidupan dunianya menjadi momok yang menakutkan, seolah penjajahan itu kembali hadir. 

Dengan kemajuan Islam di Barat juga menjadikan sebagian dunai Barat mengalami hal yang sama. Ada bayang-bayang kekebangkitan khilafah Bani Umayya yang pernah berkuasa di Spanyol. Juga seringkali dihantui oleh kebangkitan Ottoman Empire yang pernah hampir menguasai seluruh Eropa. 

Bahkan hal aneh di Slovakia misalnya anda tidak diperkenankan menyebut kopi Turki dengan Turkish Coffee. Mereka tetap menjadikan kopi Turki sebagai kopi khusus. Tapi kata Turkish jangan disebut karena meninggalkan trauma masa lalu (Ottoman) . Kopi Turki pun lebih dikenal dengan “special coffee”. 

Berbagai faktor lainnya (tujuh faktor) saya sampaikan secara rinci. Tapi semua faktor-faktor itu diperkuat oleh retorika sebagian politisi yang memakai sentimen agama untuk kepentingan politiknya. Agama kerap kali hanya menjadi gandengan. Agama tidak diposisikan sebagai “moral guidance” dalam melakukan aktifitas politiknya. 

Selain itu media juga menjadi sumber ketakutan yang destruktif. Media seringkali tidak bertanggung jawab dan memblow up (menyebarkan) hal-hal yang hanya menambah ketakutan dan kemarahan masyarakat. Sisi negatif dari Komunitas agama pastinya selalu menjadi konsumsi yang seksi. Sementara sisi positifnya sering terabaikan begitu saja. 

Dari sekian faktor ketakutan (fear factor) yang saya sampaikan itu faktor terbesar sesungguhnya ada pada faktor “ignorance” (ketidak tahuan). Betapa ketidak tahuan seseorang kerap melahirkan kecurigaan, ketakutan bahkan kebencian tanpa mengetahui penyebabnya (why)?

Ketakutan yang disebabkan oleh ketidak tahuan itulah yang dikenal dengan phobia. Phobia didefenisikan sebagai “irrational fear” (ketakutan irasional). Takut padahal tidak tahu kenapa takut. Inilah ketakutan yang paling berbahaya. Apalagi kalau ketidak tahuan itu dibumbui oleh “perasaan” atau pretendi mengetahui (pretend to know). 

Yang lebih berbahaya lagi ketika ketakutan karena ketidak tahuan itu juga termotivasi oleh rasa superioritas dan keangkuhan. Perasaan lebih dan angkuh  inilah ketika ada pihak lain yang menonjol akan menjadi ancaman baginya. Sehingga ketakutan itu biasanya akan berujung pada kebencian bahkan tidak jarang kekerasan. 

Dalam pemaparan saya sampaikan banyak contoh phobia yang pernah terjadi, khususnya dalam konteks kehidupan antar Komunitas di Amerika Serikat. Contoh-contoh itu menjadi pelajaran penting bagi semua pihak untuk melakukan langkah-langkah maksimal untuk menguranginya. 

Satu di antara langkah untuk mengurangi phobia yang ditawarkan Al-Quran adalah “ta’aruf”. Sebuah kata yang saya istilahkan sebagai “nourishment to our diversity” (pupuk keragaman) masyarakat dalam dunia yang semakin plural dan interdependent. 


NYC Subway, 11 Mei 2022 


* Presiden Nusantara Foundation

Tuesday, 10 May 2022

Agama, Spiritulitas dan Humanitas

Oleh 
Imam Shamsi Ali

Senin malam, 9 Mei 2022, saya mendapat kehormatan menyampaikan ceramah kunci (keynote speech) pada acara pertemuan interfaith tahunan dan pemberian penghargaan kepada beberapa tokoh agama di Florida US. Acara ini diadakan dengan kolaborasi antara Interfaith Center Northeast Florida dan University of North Florida. 

Tema yang diusung adalah “Our Common Humanity: together we build a better world”. Intinya kira-kira menenkankan bahwa basis koneksi antara manusia itu ada pada kemanusiaan itu. Dan atas dasar kemanusiaan itu dengan segala perbedaannya manusia bisa bekerjasama untuk membangun dunia yang lebih baik. 

Salah satu poin penting dari pesentasi saya adalah menekankan kembali urgensi memahami makna “insaniat” atau kemanusiaan manusia. Rujukan saya dalam mengelaborasi poin ini adalah surah Al-Hujurat ayat 13. 

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami (Allah) menciptakan kalian dari seorang pria (Adam) dan seorang wanita (Hawa) dan menjadikan kalian berbagai bangsa dan suku untuk saling mengenal. Sesungguhnya yang termulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti”. 

Salah satu dari makna terpenting dari sekian banyak makna (pelajaran) yang saya samppaikan dari ayat ini adalah makna “kemanusiaan” (insniat). Seruan Allah “wahai manusia” pada ayat ini sejatinya mengingatkan kita akan sebuah hakikat terpenting tentang hidup dan esensi relasi antar manusia. 

Seruan kemanusiaan ini merupakan penekanan akan realita manusia sesungguhnya. Bahwa manusia itu bukan pada fisiknya dan afiliasinya. Bukan bentuk tubuhnya atau warna kulitnya. Tapi esensi manusia ada pada apa yang disebut “insaniat” (kemanusiaan). 

Kemanusiaan ini pulalah sejatinya yang menjadi dasar koneksi atau relasi antar sesama manusia. Sebab “insaniat” inilah yang menjadi “common ground” (pijakan bersama) yang tidak diperselisihkan. Manusia secara warna kulit, bahasa, ras dan etnis, bahkan keyakinan (faith) boleh berbeda. Perbedaan itu bahkan menjadi bagian dari sunnatullah. Tapi “insaniat” tidak akan pernah berubah. Sehingga ikatan terkuat antar manusia itu ada pada kemanusiaannya. 

Jika kemanusiaan (insaniat) ini dipahami secara agama maka sesungguhnya  itulah nilai “spiritulitas” (ruhiyah). Sehingga pernah saya sampaikan bahwa manusia itu terdefenisikan sebagai “wujud spiritualitas yang bertengger pada eksistensi fisikalnya” (spiritual being in a physical body). 

Berdasarkan pemahaman yang demikian sejatinya interfaith itu dapat terbangun. Dengan kata lain, agama-agama yang bersifat pertikular (masing-masing dengan keunikannya) itu memang plural (berbeda-beda). Tapi semua agama-agama itu memilki ikatan universal tadi (spiritualitas). 

Dengan demikian apapun keyakinan atau agama seseorang, terlepas dari pemahaman partikular keagamaannya, memiliki ikatan dengan spiritulitas yang bersifat universal tadi. Sehingga perbedaan agama-agama tidak seharusnya menjadikan manusia saling terpecah, apalagi saling memusuhi dan berperang. 

Masalah kebenaran pada masing-masing agama yang bersifat partikular (unik/khas) itu menjadi hak masing-masing pemeluk agama. Dalam bahasa agama Islam: “lakum diinukum wa liya diin” (bagimu agamamu dan bagiku agamaku). 

Pada tataran ini masing-masing pemeluk agama meyakini agamanya sebagai kebenaran. Tapi keyakinan ini tidak menafikan adanya aspek universal (spiritulitas) tadi. Sehingga keyakinan kebenaran pada masing-masing agama tidak harus menjadi alasan untuk saling berpecah, apalagi bermusuhan dan berperang.

Di sìnilah keunikan Islam. Di satu sisi mengajarkan kebenaran mutlak itu (Sesungguhnya agama di sisi Allah adalah Islam). Tapi pada saat yang sama merangkul keragaman (tidak menafikan adanya yang lain). Bahwa secara partikular (khusus) Islam adalah kebenaran. Tapi merujuk kepada “common ground” tadi (insaniat atau spiritulitas) manusia bisa bersama-sama membangun dunia ini menjadi kediaman yang indah untuk semua manusia.

Itulah salah satu poin yang saya sampaikan pada pertemuan tahunan interfaith kemarin malam di Florida yang dihadiri oleh tokoh-tokoh agama, akademisi, dan beberapa pejabat pemerintahan setempat. 

Tak lupa di awal presentasi saya menyampaikan candaan bahwa saya adalah “a proud New Yorker”. Kebanggaan saya sebagai orang New York karena kenyataan bahwa New York adalah “a bridges city” (kota jembatan). Ketika ada yang berusaha membangun dinding (walls) warga New York justeru membangun jembatan. Dan mereka yang membangun dinding tidak akan betah tinggal di kota New York. 

Candaan ini sebenarnya sindiran saya kepada Donald Trump yang tidak saja memang membangun dinding di perbatasan US-Meksiko. Tapi sikapnya yang menjadikan warga Amerika terpolarisasikan. Perpecahan warga berdasarkan ras dan warna kulit, hingga ke pemeluk agama-agama sangat terasa.

Awalnya saya khawatir jika masyarakat Florida banyak pendukung Trump. Ternyata yang hadir nampak menikmati sindiran itu. Mereka pun tertawa, paham dengan maksud saya….

Udara Jacksonville-NYC, 10 Mei 2022

* Presiden Nusantara Foundation

Meluruskan Niat


Oleh : Didi Junaedi 

Syukur tak terukur. Atas perkenan Allah Swt, tahun ini kita kembali dipertemukan dengan bulan suci nan mulia, yakni Bulan Ramadan.‎

Satu hal yang harus kita perhatikan dalam menjalankan ibadah di bulan suci ini, dan di bulan-bulan lain, tentunya, ‎adalah niat. Ya, niat adalah pijakan awal sebelum melangkah lebih jauh. Jika ‎niat kita benar, maka langkah selanjutnya akan terasa ringan dan mudah, dan ‎hasilnya pun maksimal. 

Sebalik keadaan, jika niat kita salah, maka langkah ‎selanjutnya akan terasa berat dan sulit, dan hasilnya pun sia-sia.‎Al-Qur’an menegaskan, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali ‎supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan (ikhlas) kepada-Nya ‎dalam (menjalankan) agama yang lurus.” (Q.S. Al-Bayyinah : 5).‎

Nabi Saw mengingatkan dalam sabdanya, “Sesungguhnya amal itu ‎tergantung niatnya. Dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa ‎yang diniatkan.” (HR. Bukhari)‎

Dua landasan teologis di atas secara tegas menyatakan betapa ‎pentingnya niat. Tanpa niat yang lurus dan tulus, yang dalam bahasa agama ‎disebut ikhlas, maka sia-sialah pekerjaan yang kita lakukan.‎

Bisa jadi amal atau ibadah yang seseorang lakukan tampak begitu ‎khusyu’ penuh khidmat. Tetapi, jika niatnya tidak lurus dan tulus, maka amal ‎serta ibadah yang dilakukan ibarat jasad tanpa ruh, raga tanpa nyawa, alias ‎sia-sia belaka.‎

So, mengawali pelakasanaan ibadah di bulan suci ‎Ramadhan ini, juga ibadah-ibadah lainnya yang akan kita lakukan, seperti ‎qiyamul lail, tadarrus al-Qur’an, sedekah, dan sebagainya, marilah mula-mula ‎kita menata niat, luruskan dan tuluskan pengharapan hanya kepada Allah ‎semata, bukan yang lainnya.‎

Usah pedulikan sanjung puji di kanan kiri. Biarlah amal serta ibadah ‎yang kita lakukan menjadi rahasia antara kita dan Allah. Tak perlu kita umbar, ‎pamerkan atau bahkan sebar luaskan kepada khalayak. Yakinlah bahwa ‎seluruh amal dan ibadah kita tersimpan rapi dalam catatan Ilahi.‎

Kita berharap, kelak ketika tiba saatnya kita ditunjukkan hasil dari ‎amal serta ibadah yang kita lakukan, kita akan tersenyum bangga, karena ‎Allah Swt. rida atas apa yang kita lakukan ketika di dunia.‎

Semoga kita bisa terus menjaga niat agar tetap lurus dan tulus hanya ‎berharap rida-Nya semata.‎


* Ruang Inspirasi, Ahad, 3 April 2022