Monday, 16 May 2022

Yakin, Setiap Doa Pasti Dikabulkan


Oleh : Didi Junaedi 

 “…Berdoalah kamu kepada-Ku, niscaya aku ‎perkenankan permintaanmu”. (Q.S. Ghafir: 60)‎

Ayat ini menegaskan bahwa setiap doa yang dipanjatkan seorang ‎hamba kepada Allah, pasti akan dikabulkan-Nya. Setiap permintaan yang ‎diajukan kepada-Nya, pasti akan diperkenankan-Nya. Dan setiap permohonan ‎yang ditujukan kepada-Nya, pasti akan diijabah (dipenuhi)-Nya.‎

Rasulullah Saw bersabda:‎
‎“Tidak ada seorang muslim pun yang berdoa dengan doa yang tidak ‎mengandung dosa dan memutus hubungan silaturrahim, kecuali Allah akan ‎memberikan kepadanya satu diantara tiga hal : dikabulkan doanya, ‎ditangguhkan hingga hari kiamat, atau dijauhkan dari suatu keburukan atau ‎musibah yang serupa.” (HR. Ahmad)‎

Hadis di atas menegaskan bahwa pada hakekatnya setiap doa yang ‎dipanjatkan seorang hamba kepada Allah Swt pasti akan dikabulkan. Adapun ‎cara Allah mengabulkan doa hamba-Nya bisa dengan beragam bentuk.

Dari ‎hadis di atas dijelaskan bahwa ada 3 cara dalam pengabulan doa, pertama, ‎doa dikabulkan sesuai dengan permintaan yang diajukan seorang hamba; ‎kedua, jawaban doa ditangguhkan  hingga hari kiamat; dan ketiga, doa ‎dikabulkan dengan cara menjauhkan seorang hamba dari suatu keburukan. ‎

Tentang 3 cara pengabulan doa ini sering dimaknai oleh para ulama ‎sebagai berikut:‎

Pertama, yakni doa dikabulkan secara langsung sesuai dengan ‎permintaan. Ini merupakan ‘jalur khusus’ atau keistimewaan yang dimiliki oleh ‎para Nabi dan Rasul. 

Hak istimewa ini diberikan Allah kepada mereka, karena ‎para Nabi dan Rasul adalah manusia-manusia ma’shum, yang terjaga dari ‎khilaf dan dosa. Mereka adalah manusia-manusia pilihan yang memiliki ‎kesucian pikiran, hati dan jiwa. Faktor ‘kesucian’ inilah yang menyebabkan ‎mereka begitu dekat dengan Allah. Sehingga apapun permintaan yang mereka ‎panjatkan kepada-Nya selalu dikabulkan oleh Allah sesuai dengan isi ‎permintaan tersebut. Kita, sebagai manusia biasa, yang tidak terlepas dari ‎dosa dan kesalahan, tidak memiliki hak istimewa ini.‎

Kedua, jawaban doa ditangguhkan hingga hari kiamat. Ini adalah cara ‎Allah yang diberikan kepada kita, manusia pada umunya. ‎

Mengenai  penangguhan jawaban atas doa, ada yang memaknai ‎bahwa jawaban doa kita akan diberikan Allah kelak pada hari kiamat tiba. ‎Tetapi ada juga yang memahami bahwa pada hakikatnya doa kita sudah ‎dijawab oleh Allah. Tetapi jawaban itu masih ‘digantungkan’ kepada kita. ‎Artinya bahwa jawaban atas doa kita Allah berikan sesuai dengan usaha kita. ‎Misalnya, kita berdoa meminta diberi kelimpahan rezeki, maka sesungguhnya ‎Allah sudah menyediakan kelimpahan rezeki kepada kita. Tergantung ‎bagaimana kita berusaha untuk mencapai serta meraihnya. Tugas kita adalah ‎mengerahkan segala kekuatan, daya serta upaya untuk meraih kelimpahan ‎rizki tersebut. Maka sejauh usaha kita, sejauh itu pula hasil yang akan kita ‎peroleh. ‎

Ketiga, doa diakabulkan tidak sesuai dengan permintaan, tetapi diganti ‎dengan yang lebih baik. Ini juga merupakan cara Allah menjawab doa hamba-‎Nya, yakni kita manusia pada umumnya. ‎

Allah Mahamengetahui yang terbaik buat hamba-Nya. Maka jika ‎seorang hamba mengajukan permohonan yang menurutnya baik, tetapi ‎menurut Allah tidak, Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik. Ketika ‎seseorang berdoa memohon kepada Allah agar diberi harta yang banyak, ‎misalnya, tetapi menurut Allah itu bukan yang terbaik, mungkin saja Allah ‎menggantinya dengan diberikan kesehatan kepadanya, atau diselamatkannya ‎dari musibah.‎

Dengan demikian, hakekatnya semua doa yang dipanjatkan seorang ‎hamba kepada Allah, selalu dikabulkan oleh-Nya dengan berbagai macam cara. ‎Sehingga tidak selayaknya kita menganggap bahwa Allah tidak mengabulkan ‎doa kita.‎

Yakinlah bahwa setiap doa, setiap permohonan yang kita ajukan ‎kepada Allah selalu diijabah atau dikabulkan oleh-Nya. ‎


* Ruang Inspirasi, Rabu, 27 April 2022.

Qalbun Syakirun


Oleh : Didi Junaedi 

Ibn ‘Abbas r.a., salah seorang sahabat terdekat Rasulullah Saw., yang juga sepupu beliau, karena ia adalah putra dari paman Rasulullah Saw., Abbas ibn Abdul Muthallib, suatu ketika ditanya oleh seorang tabi’in tentang tanda kebahagiaan. Atas pertanyaan tersebut, beliau menyebut sejumlah tanda kebahagiaan. Dan yang paling utama menurut beliau adalah “Hati yang Selalu Bersyukur” (Qalbun Syakirun).

Apa yang disampaikan oleh sahabat terdekat yang juga kerabat Rasulullah Saw. tersebut patut kita renungkan secara mendalam. Mengapa  rasa syukur menjadi salah satu tanda kebahagiaan? Mari kita kaji.

Al-Raghib al-Ashfahani, seorang pakar bahasa Al-Qur’an, dalam karyanya “Mu’jam Mufradat Alfadz al-Qur’an” menjelaskan bahwa kata “syukur” mengandung arti “gambaran dalam benak tentang nikmat dan menampakkannya ke permukaan.”

Adapun mengenai macam-macam syukur, Al-Raghib menjelaskan bahwa syukur ada tiga macam: Pertama, syukurnya hati (syukr al-qalb) berupa penggambaran nikmat; kedua, syukurnya lisan (syukr al-lisan) berupa pujian kepada pemberi nikmat; dan ketiga, syukurnya anggota tubuh yang lain (syukr sa’ir al-jawarih) dengan mengimbangi nikmat itu menurut kadar kepantasannya.

Senada dengan Al-Raghib, Al-Ghazali dalam Mukasyafat al-Qulub menjelaskan bahwa syukur itu mencakup tiga hal: Pertama, syukur dengan hati, yaitu niat melakukan kebaikan untuk seluruh makhluk; kedua, syukur dengan lisan, yaitu menampakkan syukur kepada Allah dengan segala bentuk pujian kepada-Nya; dan ketiga, syukur dengan anggota badan, yaitu menggunakan nikmat Allah itu di jalan yang diridlai-Nya dengan ketaatan kepada-Nya, dan menjauhi larangan-Nya.

Dari penjelasan para ulama tentang pengertian serta macam-macam bentuk syukur tersebut, dapat disimpulkan bahwa rasa syukur adalah sebuah bentuk pengakuan atas nikmat yang telah diberikan Allah Swt. kepada kita, dengan mengakui dalam hati, menyatakan dengan lisan melalui kalimat tahmid, dan membuktikan dengan perbuatan melalui aktivitas positf (amal saleh).

Sikap syukur adalah salah satu sikap orang-orang bertakwa (muttaqin). Dalam sejumlah ayat al-Qur’an disebutkan bahwa cara untuk menggapai kebahagiaan (al-falah) adalah dengan menjadi orang-orang yang bertakwa.

Dari keterangan ini dapat dipahami ungkapan Ibn ‘Abbas r.a. yang menyatakan bahwa salah satu tanda kebahagiaan adalah hati yang selalu bersyukur. Artinya, bahwa ketika hati bersyukur, lisan bersyukur, serta seluruh anggota badan pun bersyukur, maka kebahagiaan akan hadir dalam kehidupan seseorang.

Mensyukuri nikmat sehat, nikmat sempat, nikmat hidup, dan seluruh nikmat yang kita alami dan rasakan akan menjadikan hidup kita berlimpah berkah.

Ya, syukur tak terukur, tanpa batas adalah salah satu cara untuk menggapai bahagia tanpa jeda, bahagia sepanjang masa.


* Hotel Ahava, Magelang, Selasa, 17 Mei 2022

Dunia yang Interdependen

 
Imam Shamsi Ali* 

Lanjutan oleh-oleh dari acara interfaith di University of North Florida Minggu lalu. Salah poin penting yang saya sampaikan adalah betapa perubahan sosial (social shifting) yang juga ditandai oleh perubahan demografi (demographic shifting) menjadi salah satu hal yang menakutkan bagi sabagian orang. 

Biasanya yang mengalami ketakutan seperti ini adalah mereka yang berada pada posisi “upper hand” (mayoritas misalnya). Mereka biasanya mengalami perasaan terancam (threaten) dengan membesarnya mereka yang berada pada posisi minoritas. Bayang-bayang ketergeseran (shifting) itu menjadi pemicu ketakutan (phobia), kebencian (hate) bahkan sering membawa kepada kekerasan (violence). 

Kebencian ras misalnya, yang menimbulkan beberapa kekerasan di berbagai belahan dunia, khususnya di dunia Barat, menjadi bukti dari fenomena di atas. Tendensi ini kemudian diperkuat oleh bangkitnya keangkuhan ras (racial supremacy) di kalangan masyarakat putih yang disebut “white nationalism”. Dan semua itu kemudian diperburuk oleh bangkitnya politisi-politisi oportunis radikal dengan memainkan kartu rasisme itu. 

Bagi Komunitas Muslim peristiwa pembantaian jamaah di dua masjid Christchurch di Selandia Baru adalah pengalaman pahit akibat kebencian ras itu. 52 orang yang terbantai di tangan seorang white nationalis dalam waktu sekejap. 

Tapi bagi Umat Islam phobia dan dan kebencian sebagian mayoritas di dunia Barat tidak saja karena alasan ras. Tapi ketakutan dan kebencian ganda, ras dan agama sekaligus. Sehingga sering saya katakan bahwa Umat Islam itu menjadi obyek phobia dan kebencian secara berlapis-lapis. 

Dalam dunia global yang interconnected atau interdependent (saling terkait) fenomena kebencian bahkan kekerasan seperti ini tidak boleh lagi dilihat secara sepihak. Artinya peristiwa yang terjadi kepada Komunitas tertentu tidak lagi seharusnya dilihat sebagai permasalahan Komunitas tertentu saja. 

Sebaliknya justeru permasalahan-permasalahan yang ada/terjadi harus dilihat pada konteks kolektif. Artinya sebuah kejadian yang menimpa sebuah kelompok Komunitas harusnya dipahami bahwa dampaknya tidak saja kepada kelompok termaksud. Tapi menimpa semua kelompok karena saling terikat. 

Satu contoh yang sering saya sampaikan dalam konteks Amerika adalah Islamophobia dan Anti semitisme. Saya melihat bahwa keduanya adalah bagaikan dua sisi mata uang. Walau dengan terminologi berbeda namun Sesungguhnya memiliki esensi yang sama. Yaitu kebencian kepada orang tertentu karena keyakinannya.

Pada konteks inilah semua harus memahami bahwa dunia kita bagaikan sebuah rumah mungil bersama dan untuk semua. Ada tanggung jawab moral bersama untuk menjaganya. Karena apa yang terjadi di sebuah bagian bumi akan berdampak kepada bagian lainnya.

Inilah salah satu makna terpenting dari Interfaith dalam dunia global. Di tengah keragaman manusia harus belajar membangun kebersamaan, bergandeng tangan untuk membangun dan menjaga/memelihara dunia ini sebagai rumah bersama. Semua tentunya punya mimpi untuk mewujudkan “Kingdom of God” (kerajaan Tuhan) di atas bumi ini. Atau dalam bahasa Al-Quran manusia harus bersama-sama membangun: “baldatun thoyyibah wa Rabbun Ghafur”. 

Manhattan, 16 Mei 2022 

* Presiden Nusantara Foundation

Sunday, 15 May 2022

Habis Gelap Terbitlah Terang


Oleh: Didi Junaedi 

“Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.” (Q.S. Ibrahim: 1)

Imam Al-Qurthubi dalam al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, ketika menafsirkan kalimat litukhrija al-nas min al-dzulumat ila al-nur pada rangkaian ayat di atas, menjelaskan bahwa di antara fungsi al-Qur’an adalah mengeluarkan seseorang dari gelapnya kekafiran serta sesatnya kebodohan menuju terangnya cahaya keimanan dan ilmu pengetahuan.

Al-Qurthubi mengilustrasikan kekafiran dan kebodohan dengan kegelapan dan kesesatan. Sedangkan Iman dan ilmu pengetahuan digambarkan sebagai cahaya yang terang benderang.

Sungguh tepat perumpamaan yang digambarkan oleh al-Qurthubi. Orang-orang kafir adalah mereka yang menutup diri dari cahaya kebenaran, sehingga mereka tetap berada dalam kegelapan. Mereka abaikan semua keterangan yang diberikan oleh al-Qur’an. Mereka larut dalam keangkuhan dan kesombongan. Mereka terlelap dalam pelukan nafsu. Mereka tenggelam dalam keyakinan yang menyengsarakan.

Al-Qurthubi juga mengilustrasikan kebodohan dengan kesesatan. Ya, orang-orang yang tidak memiliki ilmu pengetahuan adalah orang-orang yang akan tersesat. Mereka tidak mengetahui arah dan tujuan hidup di dunia ini. Mereka berjalan tanpa arah dan tujuan yang jelas. Mereka melangkah tanpa berpikir. Mereka bertindak tanpa mempertimbangkan resiko yang akan didapatnya. Merekalah orang-orang yang akan tersesat. Jika dibiarkan, maka tidak menutup kemungkinan, mereka pun akan menyesatkan orang lain.

Dalam kondisi seperti inilah, seseorang memerlukan petunjuk (hidayah) yang akan membimbing, menuntun serta mengantarkannya dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang, dari kesesatan menuju kebenaran. Dan petunjuk itu adalah al-Qur’an.

Al-Qur’an menegaskan dirinya sebagai hudan li al-nas, petunjuk bagi umat manusia. Artinya, bahwa al-Qur’an adalah pedoman hidup yang berisi tuntunan serta ajaran yang akan menuntun setiap manusia menuju jalan yang terang benderang. Al-Qur’an akan melepaskan manusia dari kegelapan menuju cahaya, dari kesesatan menuju kebenaran, dari ketidakmenentuan menuju kepastian, dari kesengsaraan menuju kebahagiaan.

Di era modern sekarang ini, ketika seseorang telah mencapai kesuksesan duniawi, tidak jarang ia merasakan kegamangan hidup dan kegersangan jiwa. Hal ini disebabkan karena tidak seimbangnya antara capaian duniawi yang bersifat materi-jasadi dengan capaian ukhrawi yang bersifat spiritual-ruhani. Dari sisi materi mereka tidak kekurangan, bahkan berkelimpahan. Sementara dari sisi rohani mereka kosong, kering kerontang.

Kekosongan rohani inilah yang pada gilirannya membuat hati mereka galau, batin mereka gelisah, jiwa mereka resah. Mereka pun kemudian mencari alternatif jawaban untuk masalah yang tengah dihadapinya. Di antara mereka ada yang mendatangi orang-orang  ‘pintar’ atau sering disebut dengan ‘guru spiritual’, ‘penasehat spiritual’ untuk menanyakan jawaban atas persoalan yang dihadapinya. Ada juga yang mencari jawaban dengan membaca buku-buku motivasi. Bahkan, tidak sedikit yang mengalihkan perhatian atas persoalan yang dihadapinya dengan menghabiskan hari-harinya di tempat-tempat hiburan.

Padahal, jika mereka mau merenung sejenak, maka akan didapati jawaban atas persoalan yang dihadapinya terletak pada ajaran serta tuntunan agama. Dalam hal ini, al-Qur’an menjadi solusi yang tepat atas setiap persoalan yang tengah dihadapi oleh setiap orang. Al-Qur’an akan menunjukkan jalan keluar atas setiap persoalan yang dihadapi oleh manusia. Al-Qur’an akan menuntun, membimbing dan mengarahkan manusia untuk keluar dari masalah. Al-Qur’an menjadi pelita yang akan menerangi jalan orang-orang yang tengah dirundung masalah, ditimpa kesulitan dan dililit persoalan. Dengan menjadikan al-Qur’an sebagai buku panduan kehidupan, maka ungkapan “habis gelap terbitlah terang” akan benar-benar terwujud.


*  Ruang Inspirasi, Jumat, 22 April 2022.