Sunday, 15 May 2022

Hati-Hati dengan Penyakit Hati


Oleh : Didi Junaedi 

Dalam kehidupan sehari-hari kita lebih sering menjumpai orang-orang yang alih-alih menebar kebahagiaan, tetapi justru merusak bahkan menghancurkannya. Mereka ini adalah orang-orang yang di dalam hatinya terdapat beragam penyakit. Bukan penyakit fisik, tetapi penyakit non-fisik (batin).

 Adapun beberapa penyakit hati yang biasa menghinggapi diri setiap manusia antara lain: sombong (takabbur), iri dan dengki (hasad), ria, buruk sangka (su’uzhan), dendam, bakhil, dan lain-lain.
 
Kesombongan adalah penyakit hati paling laten. Iblis adalah tokoh utamanya. Sebagaimana dikisahkan oleh Al-Qur’an dalam sejumlah ayatnya, bahwa ketika Allah memerintahkan Iblis untuk sujud kepada Adam a.s., yang nota bene ‘makhluk kemarin sore’, Iblis secara tegas menolaknya. Karena ia merasa lebih baik dari Adam. Inilah kesombongan pertama kali yang pernah ada. Iblis yang diciptakan dari api merasa lebih baik daripada adam yang diciptakan dari tanah. Atas sikap pembangkangannya itulah akhirnya Iblis diusir dari surga dan menjadi musuh abadi manusia.

Ciri dari kesombongan adalah ‘merasa lebih baik dari yang lain’. Orang-orang sombong merasa dirinya lebih baik dari orang lain dalam segala hal; kekayaan, ilmu, kedudukan, nasab, dan lain sebagainya. Orang-orang sombong tidak pernah mau mengakui kebaikan dan kesuksesan orang lain. Mereka, alih-alih menebar kebaikan dan kebahagiaan, justru merusak dan menghancurkannya.

Iri dan dengki (hasad) adalah penyakit hati yang tidak kalah membahayakan. Penyakit ini bisa merusak dan menghancurkan kebahagiaan, baik pada diri sendiri maupun pada orang lain. Orang yang memiliki rasa iri dan dengki tidak pernah senang melihat orang lain bahagia. Tetapi justru senang ketika melihat orang lain menderita. Pengertian sederhana dari penyakit hati yang satu ini adalah: “Susah melihat orang senang, senang melihat orang susah.”

Penyakit hati selanjutnya yang akan merusak diri dan amal kita adalah ria’. Ria’ biasa diartikan dengan ‘ingin dilihat’. Berasal dari kata ra’a (melihat). Maka ria’ adalah sikap selalu ingin dilihat dan diperhatikan oleh orang lain, khususnya dalam hal ibadah. Sikap ria’ ini akan menghilangkan kebaikan serta pahala dari amal ibadah yang kita lakukan. Karena, kita lebih memilih pujian dan sanjungan dari manusia ketika beribadah daripada memilihi pujian dari Allah. Sikap ini seringkali tidak kita sadari. Meskipun ada juga yang secara sadar melakukannya. 

Buruk sangka (su’uzhan) adalah salah satu penyakit hati yang tidak kalah bahayanya. Ia akan menghancurkan dan membinasakan kebahagiaan. Orang yang selalu berburuk sangka kepada orang lain, apalagi kepada Allah tidak akan pernah bahagia hidupnya. Orang yang selalu diliputi sikap buruk sangka ini tidak pernah mengakui kebaikan orang lain. Apa pun yang dilakukan orang lain selalu dianggap salah dan buruk di matanya. Sebaliknya, dia merasa apa yang dilakukannya adalah yang terbaik. Sikap ini jika dibiarkan berlarut-larut akan menghancurkan kehidupannya sendiri, dan tidak menutup kemungkinan juga menghancurkan kehidupan orang lain.

Penyakit hati berikutnya yang akan merusak kebahagiaan adalah dendam. Ya, dendam adalah memendam perasaan marah dalam waktu yang lama kepada seseorang. Orang yang pendendam hatinya selalu bergemuruh, batinnya tidak tenang, jiwanya jauh dari rasa tentram. Sebelum dendamnya terbalaskan, dia tidak akan bisa tidur nyenyak tidak akan bisa makan enak. Pada hakekatnya, sifat pendendam itu justru akan merusak dan menghancurkan kebahagiaan diri sendiri. Pada saatnya, juga akan merusak dan membinasakan kebahagiaan orang lain. Ajaran agama menuntun umatnya untuk menjadi pemaaf, bukan pendendam.

Sifat selanjutnya yang merupakan bagian dari penyakit hati adalah bakhil alias kikir. Ya, orang yang bakhil adalah orang yang enggan membelanjakan hartanya, bahkan untuk kepentingan dirinya sendiri. Ada rasa sayang yang berlebihan terhadap harta yang dimilikinya. Orang-orang bakhil ini, jangankan untuk berbagi kebahagiaan dengan orang lain dengan cara memberi sedekah atau bantuan yang bersifat materi, bahkan untuk dirinya sendiri mereka berat membelanjakan hartanya. Sikap bakhil ini alih-alih menghadirkan rasa bahagia, justru akan memunculkan penderitaan dalam diri seseorang. Dia selalu cemas dan khawatir dengan kekayaannya. Yang ada di dalam benaknya adalah bagaimana mempertahankan kekayaan yang dimilikinya agar tidak pernah berkurang, bahkan kalau bisa terus bertambah.

Itulah beberapa penyakit hati yang bisa merusak diri kita, juga merusak orang lain. So, hati-hati dengan penyakit hati.


* Ruang Inspirasi, Senin, 16 Mei 2022.

Saturday, 14 May 2022

HIMBAUAN KEPADA PENGUASA YANG LUPA KEPADA AJARAN AGAMA



Negeriku kini telah hampir kehilangan asa, karena para pemimpinnya tidak lagi berpegang teguh secara setia, kepada falsafah dan idiologi bangsanya sendiri yaitu pancasila dan uud 1945.

Akibatnya timbullah rasa saling curiga dan  permusuhan diantara sesama, apalagi para pemimpinnya banyak yang tamak dan rakus tidak terkira, sehingga kekayaan mereka  menumpuk luar biasa yang mereka simpan tidak hanya di dalam negeri saja tapi juga di berbagai negara di manca negara.

Sekarang diantara mereka diliputi ketakutan luar biasa, karena periode kepemimpinan presiden tempat mereka bersandar tinggal beberapa tahun lagi saja. Mereka yakin kalau rezim berganti maka kebobrokan mereka tentu akan dibongkar oleh pemerintahan baru yang berkuasa. Oleh karena itu sekarang mereka sibuk mencari cara agar harta dan dirinya selamat serta tidak dimasukkan ke dalam penjara.

Untunglah mahasiswa sekarang  bangkit dari tidurnya. Mereka bergerak dari kampusnya serta mulai berteriak dan menuding para pemimpin negerinya yang punya mata tapi buta warna punya telinga tapi pekak yang sebelahnya. 

Mereka hanya bisa mendengar suara dari hawa nafsunya dan tidak bisa mendengar jeritan serta tangisan dari rakyatnya. Hidupnya sekarang bagaikan berdiri di atas bara, yang setiap waktu apinya akan bisa menyala sehingga membakar dan menghanguskan kulit dan sekujur tubuhnya.

Mungkinkah mereka akan mencari suaka, ke negara-negara yang bisa menjaminnya seperti ke  singapura yang merupakan negara tetangga, tempat banyak koruptor yang telah menjadikan negara tersebut sebagai tempat  pelariannya.

Ingatlah wahai para pemimpin yang sudah banyak maling dan dosanya. Kalian memang bisa saja lolos dari jeratan hukum yang ada di dunia, tapi ingatlah bahwa ada malaikat raqib dan atid yang ada di kanan kiri anda yang mencatat semua perbuatan buruk anda yang itu semua harus anda pertanggung jawabkan nanti kepadaNya di pengadilanNya di akhirat sana, dimana anda tidak akan bisa menyogok siapa-siapa untuk melepaskan diri anda dari hukumanNya yang tidak terkira, dimana ujung-ujungnya anda akan dicampakkan oleh Allah swt ke dalam nerakaNya yang panas dan  menyala-nyala.

Silahkan saja anda disana  menangis sejadi-jadinya, tidak akan ada seorangpun manusia atau syetan sekalipun yang akan mendengarkannya apalagi untuk  peduli dan bisa membantu anda. Semuanya anda rasakan saja sendiri bagaimana sakit dan perihnya.

Untuk itu wahai para penguasa yang hari ini berkuasa. Ingatlah umur kalian di dunia ini tidak akan lama. Yang namanya kematian pasti akan tiba. Kalian akan dikubur dengan cara yang sangat sederhana, disitu barulah kalian tahu rasa, dimana menyesal dikala itu tidak  lagi berguna

Oleh karena itu mumpung kalian masih punya nyawa dan masih punya kuasa. Bertobatlah kalian kepadaNya. Kembalikan semua harta yang telah kalian ambil dari rakyat dan kalian curi dari negara , karena itulah langkah terbaik yang kalian harus lakukan menurut ajaran agama. Agar kalian selamat di dunia dan nanti di akhirat sana.

Anwar abbas
Ciputat, 12 april 2022
Jam 17.15 sore.

Berbagi Kebahagiaan


‎ Oleh : Didi Junaedi 

‎“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau nyatakan ‎
‎(dengan bersyukur)”. (Q.S. Al-Dhuha : 11)‎

Ayat yang baru saja kita baca ini menunjukkan, bahwa Allah Swt. ‎memerintahkan kita untuk menyatakan dan menunjukkan nikmat yang telah ‎Allah berikan dengan bersyukur.‎

Bersyukur dalam konteks ayat ini, dimaknai oleh para mufassir, tidak ‎sekadar mengucap “alhamdulillah” semata, tetapi juga dibuktikan dengan ‎tindakan nyata berupa berbagi nikmat dan kebahagiaan dengan sesama.‎

Menurut para ahli hikmah, kebahagiaan yang sesungguhnya adalah ‎ketika kita bisa membahagiakan atau berbagi kebahagiaan dengan orang lain. ‎Kebahagiaan yang hanya dinikmati sendiri adalah kebahagiaan semu.‎

Mari kita amati pengalaman hidup kita sehari-hari. Ketika kita berjumpa ‎dengan seseorang kemudian kita menyapa dengan senyuman, maka orang ‎tersebut pun akan membalas kita dengan senyuman. Ketika kita memberikan ‎sedekah kepada seorang pengemis, misalnya, dia akan mengucapkan terima ‎kasih kepada kita, dan saat itu ada perasaan bahagia dalam hati kita, bukan ‎semata-mata karena ucapan terima kasih pengemis tadi, tetapi karena kita ‎bisa berbagi dengan orang lain.‎

Sudah menjadi sunnatullah, bahwa semakin banyak kita berbagi dengan ‎orang lain, maka semakin besar kebahagiaan yang kita dapatkan, serta ‎semakin berkelimpahan kehidupan kita. Semakin bermakna kita bagi orang ‎lain, semakin nikmat kita menjalani hidup. Semakin bermanfaat kita bagi ‎banyak orang, semakin berkah kehidupan kita. ‎

Sebaliknya, semakin sedikit kita berbagi dengan orang lain, semakin sulit ‎kita mendapatkan kebahagiaan. Semakin kita tidak memberi manfaat bagi ‎orang lain, semakin sulit kita menikmati hidup. Semakin kita tidak berarti bagi ‎banyak orang, semakin tidak bermakna kehidupan kita.‎

Ironisnya, banyak di antara kita, atau mungkin diri kita sendiri, alih-alih ‎senang berbagi kebahagiaan dengan orang lain, justru  lebih memilih untuk ‎menyenangkan diri sendiri. Tidakkah kita berpikir, bahwa semakin kita ‎menyenangkan diri kita sendiri dan mengabaikan orang lain, pada hakekatnya ‎kita semakin jauh dari kebahagiaan hakiki.‎

Apa yang kita anggap kebahagiaan, jika dinikmati sendiri, hakekatnya ‎adalah kebahagiaan semu. Bahkan Rasulullah Saw. pernah menyampaikan ‎sebuah pesan penting dalam salah satu sabdanya, bahwa salah satu amalan ‎utama yang akan mengantarkan seseorang mendapatkan kebahagiaan (al-‎sa’adah) di dunia ini dan di akhirat nanti adalah “idkhal al-surur fi qalbi al-‎mu’min” (memasukkan rasa senang (bahagia) ke dalam hati orang mukmin).‎

Dari keterangan hadis ini jelaslah bahwa untuk mendapatkan ‎kebahagiaan hakiki nan sejati, maka kita harus menghadirkan kebahagiaan ‎kepada orang lain.‎

Kesimpulannya, jika kita ingin hidup bahagia, maka bahagiakanlah orang ‎lain. Berbagi kebahagiaan adalah kunci kesuksesan dan kebahagiaan hidup.‎


* Ruang Inspirasi, Ahad, 15 Mei 2022.
‎ ‎

Keragaman itu Keberkahan yang menantang


Imam Shamsi Ali* 

Masih seputar interfaith dinner tahunan Florida Minggu lalu. Salah seorang pembicara ketika itu menekankan Urgensi diversitas (keragaman). Beliau bahkan menganalogikan keragaman itu bagaikan taman bunga yang indah karena ragam warna warni di dalamnya. 

Pada sesi keynote speech saya menyetujui itu. Keragaman tidak saja indah. Tapi sejatinya menjadi sunnatullah (hukum atau aturan Allah) dalam ciptannya. Sekaligus menjadi salah satu ayatNya (tanda-tanda kebesaranNya) dalam penciptaan. 

“Dan di antara tanda-tanda kebesaranNya adalah bahwa Dia menciptakan langit dan bumi. (Demikian pula pada) perbedaan lisan (bahasa) dan warna (kulit) kalian. Sungguh yang demikian adalah tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berfikir” (Ar-Rum). 

Maka dengan sendirinya menolak eksistensi keragaman itu Sesungguhnya tanpa disadari sekaligus menolak kekuasaan Tuhan. Mengingkari keragaman seolah mengingkari eksistensi kekuasaan Allah SWT. 

Keragaman (diversity) itu memaknai adanya perbedaan-perbedaan. Sehingga jelas keliru dan tidak rasional ketika ada pihak-pihak tertentu yang ingin menyamakan segala hal. Satu di antaranya ingin menyamakan semua agama. Padahal agama-agama tidak mungkin sama. Semua agama memiliki perbedaan-perbedaan yang mendasar. 

Mereka yang mengaku pahlawan keragaman tapi di sisi lain ingin menyamakan (menyeragamkan) agama-agama mengalami “self paradox” (pribadi yang bertolak belakang). Jika semua agama dipandang sama/seragam berarti dengan sendirinya keragaman tidak lagi eksis. 

Oleh karenanya pemahaman tentang keragaman yang benar adalah tetap meyakini adanya Perbedaan bahkan seringkali bersifat mendasar di semua agama. Konsep Islam tentang Yesus (Isa AS) dan Kristen berbeda secara mendasar (prinsip). Maka Islam dan Kristen adalah dua bentuk keyakinan yang ragam (berbeda). 

Oleh karena keragaman adalah karunia (ciptaan, aturan, hukum, keputusan) Allah maka dengan sendirinya keragaman merupakan keberkahan (blessing) Allah dalam hidup manusia. Dengan keragaman manusia dapat memilih yang terbaik berdasarkan pikiran dan kebebasan kemanusiaannya. 

Sehingga agama itu berdasar pada pilihan dan personal. Agama tidak mungkin bisa dipaksakan karena bertentangan dengan tabiat dasar nanusia yang diberikan kebebasan oleh Tuhan. Islam dalam hal ini jelas dengan “Laa ikraaha fid diin” (tiada paksaan dalam agama). 

Pada sisi lain walaupun keragaman itu adalah keberkahan namun penuh dengan tantangannya. Saya menyebutnya dengan “a challenging blessing” atau keberkahan yang menantang. 

Dikatakan menantang karena walau bersifat alami dalam hidup manusia, bahkan menjadi sunnatullah, sering tidak disadari dan dengan mudah manusia mengoyaknya. Hal itu karena pada diri manusia ada tendensi egoisme yang tinggi. 

Di sìnilah sering kita lihat keragaman tidak membawa keberkahan (atau dalam bahasa agama Islam sebagai rahmah). Sebaliknya justeru menjadi jembatan perpecahan, permusuhan bahkan peperangan. 

Islam pun hadir dengan penawaran solusi. Saya mengistilahkan solusi ini dengan “nourishment” atau gizi keragaman.  Itulah konsep “ta’aruf”. Seperti yang ditegaskan Al-Quran: “dan Kami menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk lita’arafu atau saling mengenal”. 

Ta’aruf itu sesungguhnya memiliki makna yang sangat dalam dan luas, lebih dari terjemahan “saling mengenal”. Saling mengenal hanya langkah awal dari ta’aruf. Karena kata ini bermakna ‘urf misalnya yang berarti tradisi, kebiasaan, bahkan semua yang menjadikan orang lain dikenal dengannya. 

Dari saling mengenal akan tumbuh saling memahami (understanding). Pada tataran ini akan tumbuh sikap toleransi. Sebagai contoh saja. Saya tidak sepakat/tidak setuju dengan orang itu. Tapi saya paham kalau orang itu juga merasa benar dengan keyakinannya. Karenanya saya memahami sikap dan keputusannya. Pada tingkatan ini secara alami akan tumbuh rasa solidaritas dan kedekatan (compassion). 

Jika ada rasa itu maka Sesungguhnya kerjasama (partnership) bukan sesuatu yang mustahil. Di sìnilah manusia akan mampu membangun dunia secara bersama di tengah keragaman dan perbedaan-perbedaan di antara mereka. 

Sebenarnya lebih jauh lagi kerjasama itu harus ditingkatkan kepada saling membantu dan membela antara satu sama lain (defending for one another). Dunia kita adalah dunia global yang “deeply interconnected” (saling terkait). Satu contoh yang terasa di Amerika adalah bahwa “Islamophobia & Antisemitisme” adalah dua hal yang senyawa. Keduanya adalah bentuk kebencian kepada orang lain karena keyakinannya.

Dalam dunia yang saling terkait keburukan yang menimpa seseorang itu  adalah sejatinya keburukan yang menimpa semua orang. Perang Rusia-Ukraine saat ini berdampak pada semua manusia di semua penghujung dunia.

Dan Karenanya benar sebuah pernyataan yang mengatakan: “enough for evil to thrive when the good people say or do nothing” (cukuplah bagi kejahatan untuk merajalela ketika orang-orang baik diam atau tidak berbuat apa-apa”.

Palestina mungkin menjadi contoh terdekat akhir-akhir ini. Para penguasa Muslim, khususnya Timur Tengah diam membisu bak tidak punya rasa melihat kekerasan-kekerasan yang menimpa saudara-saudaranya. What a tragedy! 

Jamaica City, 14 Mei 2022 

* Presiden Nusantara Foundation