Friday, 13 May 2022

Pesan Al-Qur’an untuk Menggapai Kebahagiaan


Oleh: Didi Junaedi 

Apa sesungguhnya yang dicari dalam hidup ini? Kekayaan, popularitas, kedudukan, jabatan, kehormatan, kesenangan, ataukah yang lainnnya? Jawaban atas pertanyaan tersebut bisa bermacam-macam. Tetapi, satu hal yang pasti diamini oleh setiap orang, yaitu kebahagiaan.

Ya, tidak ada seorang pun di dunia ini yang tidak ingin hidup bahagia. Setiap manusia pasti mendambakan kebahagiaan dalam hidupnya. Bagi seorang mukmin, harapan mencapai kebahagiaan tentu tidak hanya sebatas ketika hidup di dunia saja, tetapi juga kebahagiaan di akhirat kelak. 
 
Untuk menggapai kebahagiaan, setiap orang memiliki cara yang berbeda, sesuai dengan persepsinya tentang kebahagiaan. Ironisnya, tidak semua orang menempuh jalan yang benar untuk mencapai kebahagiaan.

Ada orang yang menganggap kebahagiaan dapat dicapai dengan kelimpahan materi. Ada pula yang mengandaikan kebahagiaan bisa didapat dengan popularitas. Pun, ada orang yang mengira kebahagiaan bisa terwujud dengan menempati suatu posisi atau kedudukan tertentu.

Namun ironisnya, setelah semua yang mereka anggap mampu melahirkan kebahagiaan dapat diraihnya, baik berupa kekayaan, popularitas, bahkan keduduk dan jabatan, tetapi kebahagiaan tak kunjung hadir dalam kehidupannya. Mengapa demikian?

Pada hakekatnya, mereka telah tertipu dengan kesenangan yang mereka anggap kebahagiaan. Kesenangan berupa kelimpahan materi, popularitas, kedudukan dan jabatan, sama sekali bukanlah kebahagiaan. Kebahagiaan yang sesungguhnya ada di dalam hati yang tenang, jiwa yang tentram, dan batin yang damai. Semua ini yang absen dalam diri mereka. Sehingga, meski harta berlimpah, popularitas menjulang, kedudukan dan status sosial mereka tinggi, tetapi kebahagiaan tak kunjung datang.

Al-Qur’an memberi petunjuk melalui sejumlah ayatnya tentang bagaimana meraih kebahagiaan. Kebahagiaan hakiki, yaitu kebahagiaan yang hadir tidak hanya ketika di dunia ini, tetapi juga ketika di akhirat nanti akan terwujud jika manusia selalu menghadirkan Tuhan dalam dirinya. Sikap merasa selalu diawasi (muraqabah) Tuhan dalam setiap ucapan tindakan serta perilaku inilah yang akan menghadirkan kedamaian dan kebahagiaan. 

Menghadirkan Tuhan dalam diri juga bisa dimaknai dengan mengaktualisasikan sifat-sifat Tuhan. Sebagaimana Sabda Nabi Saw, “Berakhlaklah dengan akhlak Allah.”

Jika kita mampu meneladani akhlak (sifat-sifat) Allah, juga meneladani akhlak Rasulullah Saw., maka bisa dipastikan hidup kita akan bahagia dunia-akhirat.


* Ruang Inspirasi, Kamis, 24 Maret 2022

Bersyukur Sepanjang Waktu


Oleh : Didi Junaedi 

Jika pagi ini, ketika bangun tidur anda tidak melihat ada selang infus yang menempel di tangan, atau selang oksigen yang terpasang di kedua rongga hidung anda, bersyukurlah, itu artinya anda tengah berada di rumah dalam kondisi sehat, bukan di rumah sakit dalam keadaan terbaring tak berdaya. 

Bagi yang tengah sakit, dan berada di rumah sakit pun harus bersyukur, karena saat ini anda masih diberi nikmat hidup oleh Allah Swt. Terus berusaha dan berdoa semoga lekas diberi kesembuhan oleh-Nya. Berpikir positif bahwa penyakit yang anda derita adalah wujud kasih sayang Allah, agar anda selalu mengingat-Nya, jauh lebih baik daripada mengeluh apalagi mempertanyakan keadilan Allah. 

Jika saat ini anda dapat membaca huruf demi huruf yang terangkai dalam tulisan ini tanpa merasa kesulitan, bersyukurlah, itu artinya pengelihatan anda masih baik. Ya, meskipun mungkin dibantu dengan kacamata, misalnya. Tetap bersyukur, karena di luar sana ada orang yang sama sekali tidak bisa melihat, meski dibantu dengan mengenakan kacamata.

Selalu bersyukur sepanjang waktu, akan menghadirkan rasa tentram dalam kalbu. Syukur dalam setiap keadaan, akan menjadikan hidup terasa nyaman. Syukur tak terukur akan menjadikan seseorang hidup makmur. Syukur setiap saat akan menjadikan hidup terasa nikmat. 

Nah, mengapa seringkali kita merasakan hidup ini tidak nyaman, diliputi keresahan dan kegalauan? Jawaban atas pertanyaan ini adalah karena seringkali rasa syukur hilang dari diri kita.

Kita sering membayangkan atau menginginkan sesuatu yang berada di luar  kita, sesuatu yang tidak atau belum kita miliki. Padahal, jika kita melihat di dalam diri kita, terlalu banyak, bahkan tak terhitung nikmat yang telah Allah anugerahkan kepada kita. Tetapi, karena nafsu yang lebih dominan di dalam diri, maka semua nikmat yang telah Allah hadirkan seolah hilang tak berbekas, berganti keluhan dan ratapan.  Inilah salah satu sifat buruk manusia.

Tepatlah apa yang disebutkan Allah Swt. dalam salah satu ayat-Nya, " Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur." (Q.S. Saba" : 13). 

Padahal, Allah Swt telah menjanjikan dalam ayat-Nya yang lain, "...jika kalian bersyukur pasti akan Aku tambah nikmat-Ku padamu. Tetapi jika kalian kufur, sesungguhnya azab-Ku amat pedih”. (QS Ibrahim: 7).

Dari keterangan ayat ini jelaslah bahwa tidak ada cara lain untuk menghadirkan nikmat yang berlipat, selain mensyukurinya setiap saat. Tidak ada cara lain untuk menjadikan nikmat terus bertambah, selain mensyukurinya tak kenal lelah. 

So, syukur tak terukur adalah cara paling efektif agar nikmat terus terulur. Sehingga hidup semakin makmur.


* Ruang Inspirasi, Sabtu, 14 Mei 2022.

Thursday, 12 May 2022

Jadilah Makhluk Terpuji


Oleh : Didi Junaedi 


‎“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia.”‎

‎--- Nabi Muhammad Saw ---‎

Pesan Nabi Muhammad Saw. tersebut menunjukkan betapa pentingnya ‎akhlak mulia. Ya, akhlak mulia (al-akhlaq al-karimah) atau sering disebut juga ‎dengan akhlak terpuji (al-akhlaq al-mahmudah) adalah ciri pribadi mulia. ‎

Seseorang yang memiliki akhlak mulia akan dihormati dan dihargai ‎oleh orang lain, juga dicintai dan disayangi Allah Swt. Sebaliknya, seseorang ‎yang memiliki akhlak yang buruk dan tercela (al-akhlaq al-madzmumah) tidak ‎akan dihormati dan dihargai oleh orang lain, bahkan mungkin akan dihindari ‎orang lain, karena mereka khawatir terhadap keburukan yang akan menimpa ‎mereka ketika bergaul dengan orang yang berakhlak buruk tersebut. Dia juga ‎akan dibenci oleh Allah karena perilaku buruknya.‎

Akhlak mulia adalah ciri khas para nabi dan rasul, juga orang-orang ‎saleh. Mereka mulia di mata manusia karena budi pekertinya yang luhur, ‎sikapnya yang santun, ucapannya yang menyejukkan, dan pribadinya yang ‎ramah. Mereka juga mulia di hadapan Allah karena sikapnya yang lemah ‎lembut dan penuh kasih sayang terhadap sesama. Allah yang memiliki sifat ‎Rahman dan Rahim sangat mencintai hamba-hamba-Nya yang berakhlak ‎dengan sifat-sifat-Nya. ‎

Dalam sebuah kesempatan, Nabi Muhammad Saw. pernah menyatakan, ‎‎“Seorang muslim adalah seseorang yang orang muslim lainnya selamat dari ‎gangguan (kejahatan) lisan dan tangannya”. (HR. Bukhari)‎

Hadis ini menunjukkan bahwa di antara akhlak terpuji adalah ‎menjadikan orang lain nyaman dan tenang ketika berada di sisi kita. Mereka ‎tidak khawatir akan tersakiti hatinya atau tersinggung perasaannya karena ‎ucapan kita. Mereka juga tidak takut dengan perlakuan buruk yang mungkin ‎akan menimpa mereka karena tindakan dan sikap kita. Mereka menikmati ‎kebersamaan dengan kita. ‎

Orang-orang dengan akhlak terpuji akan memiliki banyak saudara, ‎teman, dan sahabat. Kehadirannya selalu memberi kesejukan. Keberadaannya ‎selalu menghadirkan kedamaian. ‎

Orang-orang yang memiliki akhlak terpuji, tidak hanya bersikap baik ‎kepada sesama manusia. Bahkan kepada binatang, tumbuhan, serta makhluk-‎makhluk Allah yang lainnya pun dia bersikap baik. Dia berusaha menjadi ‎rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam). Dia akan bersikap ramah ‎terhadap lingkungan. Karena dia sadar sepenuhnya, bahwa ketika dia bersikap ‎ramah kepada lingkungan, berlaku baik kepada alam, maka alam pun akan ‎bersahabat dengannya. Sebaliknya, ketika seseorang abai terhadap ‎lingkungan sekitar, bahkan cenderung merusak, maka alam pun enggan ‎bersahabat dengannya, tidak menutup kemungkinan alam akan murka ‎kepadanya.‎

Mari kita perhatikan apa yang terjadi di tengah-tengah kita. Ketika ‎manusia tidak peduli dengan lingkungan, abai dengan kelestarian alam, alam ‎akan melakukan hal yang sama. ‎

Ketika manusia tidak menjaga kebersihan, misalnya, dengan ‎membuang sampah sembarangan, alam mengirimkan banjir. Ketika manusia ‎merusak hutan, alam menghadirkan longsor. Ketika manusia, karena tuntutan ‎gaya hidup membangun rumah kaca, maka alam merespon dengan semakin ‎menipisnya lapisan ozon. Ketika manusia dengan keserakahannya melakukan ‎pengeboran sejumlah tempat yang diduga terdapat sumber minyak dan gas ‎bumi, untuk kepentingan segelintir orang, alam mengirimkan lumpur panas, ‎seperti yang terjadi di Sidoarjo,  Jawa Timur. Dan masih banyak lagi kejadian-‎kejadian di muka bumi ini yang merupakan efek buruk dari perilaku manusia ‎yang tidak terpuji.‎

Mari kita amalkan pesan Rasulullah Saw., “Sebaik-baik manusia adalah ‎yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (HR. Ahmad)‎

Pesan Rasulullah tersebut bisa dimaknai secara luas. Manusia terbaik ‎adalah mereka yang kehadirannya memberi manfaat bagi lingkungan di ‎sekitarnya. Manusia mulia adalah mereka yang selalu menghadirkan kebaikan, ‎memberi kedamain, menebarkan ketenangan kepada lingkungan di sekitar ‎tempat tinggalnya, bahkan lebih luas lagi. ‎

So, jadilah makhluk terpuji! ‎

* Ruang Inspirasi, Jumat, 13 Mei 2022.

Manusia dan kekeluargaan Universal

 

Oleh: 

Imam Shamsi Ali

Melanjutkan oleh-oleh dari konferensi antar Komunitas agama di Florida Minggu lalu. Surah Al-Hujurat ayat ketiga belas ternyata tidak saja menyampaikan esensi kemanusiaan (humanity, fitrah, spiritualitas). Tapi sekaligus mengafirmasi kekeluargaan manusia secara universal. 

Bahwa manusia itu sejatinya tanpa kecuali semua ada dalam satu keluarga kemanusiaan yang universal. Sehingga wajar saja jika ayat-ayat Al-Quran berkali-kali menekankan tentang asal usul penciptaan manusia itu. 

Manusia misalnya dalam beberapa kali disebutkan sebagai ciptaan dari tanah (turab, thiin, hama’ masnuun”). Atau beberapa kali juga disebutkan penciptaannya dari air yang hina atau air mani (maa mahiin). 

Di awal Surah An-Nisa Allah menegaskan penciptaan manusia dari jiwa yang satu (Adam). Sebagian ulama menafsirkan kata “nafs wahidah” sebagai sumber penciptaan yang sama. Artinya baik lelaki maupun wanita diciptakan dari “sumber” yang satu (sama). 

Pada ayat ketiga belas Surah Al-Hujurat ini Allah seolah menekankan sekaligus merincikan asal usul manusia. Bahwa orang tua manusia itu, siapapun dan apapun rupanya saat ini, sama. Semua manusia diciptakan dari satu pria (dzakar: Adam) dan satu wanita (untsa: Hawa). 

Penekanan ini sesungguhnya menyampaikan beberapa pesan penting. Satu di antaranya adalah pentingnya membangun rasa kedekatan (kekeluargaan) di antara sesama manusia. Sadar akan orang tua (ayah dan ibu) yang sama seharusnya membangun rasa kedekatan yang intim di antara manusia itu. 

Kesadaran akan persaudaraan universal ini dengan sendirinya akan mengurangi kecenderungan friksi (perpecahan) manusia karena alasan-alasan partikularnya, termasuk karena ras, etnis, warna kulit, budaya bahkan agama. Manusia akan mampu melampaui perbedaan-perbedaan itu untuk merangkul koneksi universalnya dalam rasa kekeluargaan kemanusiaan itu.

Perpecahan manusia karena ras (racial divisions) bahkan keangkuhan ras oleh sabagian (rasisme) salah satunya disebabkan oleh kegagalan memahami konsep kekeluargaan universal ini. Adanya perasaan lebih karena ras atau warna kulit merupakan bentuk “stupidity” (kebodohan) yang buruk pada sebagian manusia. 

Bahkan dalam hal beragama sejatinya tidak dipahami sebagai pintu perpecahan dari kekeluargaan universal itu. Keyakinan (faith) dan agama harus dijadikan jalan bagi memperkuat kembali kekeluargaan universal itu. Agama datang untuk mengingatkan kita tentang “commonalitas” yang universal. Satu Tuhan, satu ayah/ibu, dan satu asal penciptaan (tanah liat). 

Dan karenanya agama selalu menjadi lentera bagi manusia untuk mewujudkan moral strength (kekuatan moral) dalam merajut kebersaman demi membangun dunia yang lebih baik. Bukan sabaliknya justeru agama dijadikan dasar bagi perpecahan, permusuhan, bahkan peperangan.

“Agama menyatukan. Egoisme memisahkan”.  Salah satu poin yang saya sampaikan pada ceramah kunci di pertemuan itu. Semoga manfaat! 

Manhattan, 12 Mei 2022 

* Presiden Nusantara Foundation