Wednesday, 18 February 2015

Demokrasi Sistem yang Buruk

Demokrasi adalah sebuah sistem yang anarkis secara sistematis. mungkin itulah sebuah definisi yang cocok bagi demokrasi. hal itu terbukti pada dasarnya bangsa Indonesia tidak menghendaki demokrasi. Indonesia lebih mengenal sistem ngerembuk atau musyawarah, dimana setiap orang dipersilakan untuk bicara dan memberi pendapat. hal itu berarti dalam musyawarah lebih mengutamakan isi kepala. sedangkan dalam sistem demokrasi lebih mengutamakan menghitung isi kepala dalam memecahkan masalah. 
demokrasi yang dikehendaki oleh para Founding father adalah sebuah demokrasi Indonesia demokrasi yang berdasarkan kearifan lokal, bukan demokrasi ang berasal dari barat. dimana demokrasi barat lahir dari kontruksi masyarakat yang individualis yang berkelanjutan pada liberal. hal itu jelas tidak sesuai dengan budaya masyarakat Indonesia yang merupakan majemuk, hidup dalam kekeluragaan, gotong royong dan saling menghargai. dalam memecahkan masalah selalu diutamakan adalah ngerembuk bukan berdasarkan voting. 
jikalau kita melihat sejarah demokrasi yang terlahir dari revolusi Prancis tidak ubahnya sebuah revolusi borjuis yang menggunakan tangan rakyat. demokrasi yang dikatakan sebuah pemerintahan rakyat hanyalah sebuah nama namun eksistensinya bukan rakyat yang memerintah akan tetapi kelas atas dan borjuislah yang memerintah. hal itu terlihat dari pemilu tahun 2004, 2009 dan 2014 tak ada perubahan signifikan yang merubah kehidupan rakyat. Tetaplah rakyat sendiri yang harus berjuang untuk menyambung hidup.
demokrasi telah menghabuskan orang-orang yang berilmu, hal itu terbukti dengan adanya sistem pemilu setiap orang bisa mencalonkan sebagai penguasa tanpa melihat ilmu kenegaraan, ilmu agamanya, ilmu bangsa, ilmu yang seharusnya sesuai dengan kebutuhan rakyat. akan tetapi dalam administrasi bisa memenuhi syarat yang telah ditentukan. terlebih dalam mencalonkan diri membuuhkan biaya kampanye yang tidak sedikit. seperti membuat spanduk, kunjungan wilayah untuk mengperkenalkan diri. mereka yang mencalonkan diri adalah orang-orang yang notabennya adalah pengusaha, serta melakukan dana pinjaman dari berbagai sumber sebagai modal kampanye. 
orang-orang yang notabennya berilmu berfikir panjang untuk mencalonkan diri sebagai wakil rakyat ataupun penguasa. kebanyakan orang berilmu lebih kepada mendidik anak bangsa. seperti di lingkup kampus, pesantren, dan lingkungan akademesi lainnya. 
demokrasi sepertinya memang didesain untuk memusnakan orang-orang yang berilmu, bukankah ada sebuah pepatah ketika kepemimpinan sudah tidak lagi diserahkan kepada ahlinya akan hancur suatu bangsa? hal itulah yang terjadi saat ini. demokrasi yang telah dijalankan seolah-olah dipimpin oleh oraqng-orang yang tidak berilmu. adapun orang yang berilmu ketika dalam parlemen atau pemumungatan suara akan kalah kalau diadu dengan banyaknya orang yang tak berilmu. contohnya; seorang profesor memiliki hak satu suara akan kalah dengan dua orang yang tidak berpendidikan yang sama-sama meiliki satu suara.
inilah yang sebenarnya dikawatirkan oleh founding father dalam pidato pancasila 1 Juni 1945 Ir Soekarno yang mengatakan jika kita hendak mengambil sistem demokrasi janganlah menggunakan sistem demokrasi dari barat. Ini sebagai pertanda bahwa sejatinya demokrasi adalah sebuah sistem yang buruk yang memusnakan orang-orang yang berilmu.
pemerintahan yang baru setelah dilantiknya presiden 20 Oktober 2014 sampai saat ini tidak ada perubahan yang signifikan. masalah demi masalah bermunculan. mulai dari kisru perubatan pimpinan alat-alat pelengkap DPR antara dua kubu koalisi. ditambah pernyataan kontroversi para menteri-menteri, sampai pertempuran dua lembaga penegak hukum antara KPK dengan Polri yang diawali dengan sebuah pengesahan calon Kapolri baru yang lolos seleksi padahal telah ditetapkan oleh KPK sebagai tersangka rekening gendut.
Alampun marah terhadap bangsa Indonesia atas perbuatan yang dilakukan oleh pemimpin-pemimpin bangsa. ketika pemilu presiden pertama kali pada tahun 2004 alam ikut menegur dengan tsunami di Aceh yang menewaskan 100.000 orang. apakah ini berkaitan dengan hal tersebut hanya tuhan yang tahu. namun pada kebenaran sejarah bangsa Indonesia adalah satu-satunya yang menetapkan bangsa terlahir, merdeka dan membentuk negara. artinya bahwa bangsa (rakyat dan wilayah) yang menentukan negara. sementara pemilu adalah negara yang menentukan bangsa.

No comments:

Post a Comment